Showing posts with label Environmental Engineering. Show all posts
Showing posts with label Environmental Engineering. Show all posts

Friday, April 19, 2019

Teknik Remediasi Lingkungan



Mata Kuliah Teknik Remediasi Badan Air dan Pesisir (RBAP) baru eksis di Kurikulum 2014 Teknik Lingkungan, sebelumnya pada Kurikulum 2009 terdapat Mata Kuliah Pengendalian Pencemaran Laut  dan Pesisir (PPLP) yang dihapus dan dimasukkan ke dalam MK RBAP di 2004. Sebagai dosen yang tergabung pada Rumpun Mata Kuliah (RMK) Remediasi Lingkungan, maka saya juga mendapat kepercayaan untuk menjadi pengampu MK RBAP ini. Kebetulan juga mungkin karena topik Tugas Akhir dan topik Disertasi saya tentang Ekotoksisitas limbah organik terhadap biota air dan Bioremediasi/Fitoteknologi media tercemar logam berat Pb dianggap merupakan bagian dari Teknologi Remediasi, sehingga dianggap cukup sebagai bekal untuk menyampaikan MK tersebut.

Pada saat aktif kembali tahun 2013 setelah 3,5 tahun sekolah, saya mengawali "karir" menjadi pengampu MK PPLP dan ternyata saya sangat menikmati, terutama saat menyampaikan materi mengenai  Bioremediasi/Fitoremediasi yang memang menjadi "mainan" saya selama hampir 4 tahun. Sehingga pada saat Kurikulum 2014 direlease, dan saya menjadi salah satu pengampu MK RBAP, sudah timbul niat saya untuk menyusun diktat/ buku ajar tentang teknik-teknik remediasi yang ada dan dapat diterapkan. Namun karena keterbatasan waktu (alasan klise) dan ketidakPEDEan, membuat draft buku tersebut tetap menjadi draft selama beberapa tahun (lebih kurang 4 tahun sampai diterbitkan tahun 2018). Keinginan untuk melanjutkan realisasi diktat/ buku tersebut timbul lagi setelah dengan "terpaksa" kami team teaching MK RBAP (Prof. Sarwoko M, bu Harmin S. Titah dan saya sendiri) menerbitkan petunjuk praktik Remediasi Lingkungan, yang disusun dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari setahun) dan dipersiapkan mendadak setelah presentasi Rencana Perkuliahan (RP) MK RBAP disampaikan di Rapat Kurikulum di tahun 2014. Pada saat itu kami berdua (bu Harmin dan saya) menyusun petunjuk praktikum untuk keperluan perkuliahan, terdiri dari +/- 12 percobaan, namun setelah kami tunjukkan kepada Prof. Sarwoko selaku ketua RMK Remediasi Lingkungan, beliau menyampaikan bahwa draft tersebut sudah layak diterbitkan sebagai buku berISBN, dan jadilah buku Praktik Remediasi Lingkungan dicetak dengan ISBN dan penerbit ITS Press. Buku tersebut dicetak dan diberikan secara cuma-cuma kepada mahasiswa dengan biaya yang diupayakan secara pribadi oleh anggota Laboratorium Remediasi Lingkungan TL. Buku tersebut juga merupakan pegangan untuk melaksanakan praktikum MK RBAP sejak praktikum dilaksanakan di semester gasal tahun 2015/2016 (TL angkatan 2013).

Setelah terbitnya buku praktik tersebut, saya mengajak bu Harmin untuk ikut melanjutkan penyelesaian draft buku Teknologi Remediasi Lingkungan yang sudah terhenti penulisannya karena banyak hal yang disebutkan di atas, dan ditambah lagi dengan tersitanya waktu untuk menyelesaikan penulisan dan penerbitan buku Praktik Remediasi Lingkungan. Pada akhirnya, tahun 2018 lalu, setelah menjalani proses panjang seleksi di penerbit lebih kurang 1 tahun (karena kami berusaha mencari penerbit yang mau memproduksi buku kami tanpa kami mengeluarkan biaya), terbitlah buku kami yang berjudul Teknologi Remediasi Lingkungan dengan ISBN978-602-5874-07-9 oleh Penerbit MOBIUS (Graha Ilmu). Semoga buku ini dapat menjadi sarana penyebaran pengetahuan, dan walaupun belum selengendaris buku Metoda Penelitian AIR karya Ibu Sri Sumestri, namun kami berharap buku ini kelak juga dapat menjadi pengingat keberadaan kami kepada alumni Teknik Lingkungan ITS terutama. Bismillahirrohmaanirrohiiim.


Surabaya, Sabtu 20 April 2019, 10.07

Thursday, April 18, 2019

Ibu TL dalam kenangan



Bagi yang pernah kuliah di Teknik Lingkungan ITS, hampir pasti pernah mengenal buku ini: Metoda Penelitian AIR (MPA), meskipun banyak yang tidak kenal dengan penulisnya Ibu Ir. Sri Sumestri, MSc., yang juga merupakan Ketua Jurusan Teknik Lingkungan ITS yang pertama, dan salah satu pendiri/ perintis Jurusan Teknik Lingkungan di ITS. Sayapun baru bertemu muka dengan beliau saat sudah menjadi Dosen di TL ITS, tidak ingat pasti tahun berapa bertemu beliau pertama kali, kemungkinan sekitar tahun 2000an. Kesan saya saat pertama kali bertemu muka dengan beliau adalah cantik, pinter, tegas, tapi tetap....lembut luar biasa dan banyak senyum.

Buku MPA ini, sangat ngetop di jamannya, karena menjadi salah satu buku pegangan untuk Mata Kuliah Laboratorium Lingkungan (saat ini nama MK menjadi Teknik Analisis Pencemar Lingkungan), walaupun ada buku acuan lain yang berbahasa Inggris dan lebih lengkap, namun buku ini masih jadi yang utama. Mudah dibaca (karena berBahasa Indonesia), mudah dipahami (karena bahasanya sederhana), mudah dibawa-bawa (karena tidak setebal buku-buku TL yang beratnya bisa bikin punggung mengalamai skoliosis), dan merupakan buku pertama bidang TL yang dikenal oleh mahasiswa, karena di semester-semester sebelumnya kami "hanya" bertemu dengan matematika, fisika, kimia, menggambar teknik, sehingga pasti buku ini sangat mudah diingat oleh alumni TL. Wajah penulisnya pun sudah sangat populer di kalangan TLers, karena ada foto dan biografi singkat di bagian dalam sampul belakang buku.

Analisa parameter air, seperti yang tercantum di dalam buku, juga merupakan salah satu hal penting dalam bidang keTLan, sehingga mau atau tidak mau dan suka atau tidak suka, saat kita membahasnya pasti akan teringat pada buku MPA yang fenomenal tersebut. Meskipun saat ini sudah semakin banyak bahan ajar, buku, jurnal maupun acuan lain yang dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan analisa parameter air, namun keberadaan buku MPA ini tidak akan pernah hilang atau terhapus. Bahkan pada saat Hari Selasa, 16 April 2019 kemarin mendengar berita beliau berpulang, beberapa alumni ada yang bertanya (karena tidak mengenal langsung sosok beliau), jawaban singkat: penulis buku MPA sudah membuat semua mengingat beliau. 

Begitu dahsyatnya karya tulis beliau menguasai ingatan kami semua, semoga buku ini dapat menjadi ladang amal jariyah, dan menginspirasi kami para penerus beliau untuk dapat menghasilkan karya-karya terbaik yang bermanfaat untuk banyak orang, yang tidak akan berhenti meskipun saat nafas sudah terhenti.

Selamat beristirahat Ibu, istirahat dengan tenang, kami semua mendoakanmu melalui ladang amal jariyahmu yang kau sebarkan.


Surabaya, Jumat 19 April 2019, 12.44




Sunday, March 30, 2014

Kurikulum 2014



Menjelang pergantian kurikulum 2014, kesibukan penyusunan kurikulum baru yang dimotori oleh tim kurikulum jurusan sudah hampir sampai ke ujungnya. Tentu dengan pro dan kontra disana sini, banyak kepala dengan berbagai ide masing-masing, yang semuanya bertujuan sama: untuk kemajuan dan peningkatan kompetensi lulusan, meskipun dengan pendapat dan cara yang berbeda (ada yang cukup bertanya2 dan “berbicara” dalam hati maupun yang lantang menyuarakan pendapatnya di milis dan media sosial lain karena merasa tidak mendapat respon yang diharapkan melalui komunikasi langsung dengan para pengambil kebijakan).


Topik yang saat ini sedang hangat diperbincangkan adalah pendegradasian beberapa mata kuliah dari “status” wajib menjadi “hanya” pilihan. Kata “hanya” sengaja saya beri tanda kutip untuk menunjukkan perbedaan persepsi yang disebabkan oleh satu kata tersebut. Pada saat pertama kali mengetahui “turun”nya status (dari yang diwajibkan menjadi mk pilihan – yang boleh diambil maupun tidak sesuai dengan minat masing-masing) salah satu mata kuliah dengan tugas besar perencanaan….terus terang saya bertanya2….apakah mungkin ada mahasiswa yang mau “mempersulit” diri sendiri dengan mengambil mata kuliah pilihan yang dilengkapi tugas perencanaan. Saya ingat pengalaman pribadi pada saat kuliah S1, mengambil mata kuliah pilihan berdasarkan tingkat “kemudahan” nya, alias yang tanpa tugas menggambar. Dan pilihan tersebut dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa di angkatan saya, meskipun dengan berbagai alasan resmi yang berbeda, tapi kalau mau jujur alasan utama kami semua adalah memilih mata kuliah yang pasti2 aja lulusnya dan ga nambah2in beban tugas yang sudah bertumpuk2 pada mata kuliah wajib. Saat itu tidak terpikir akan mengambil mata kuliah pilihan yang “laku di pasar dunia kerja”. Saya sempat sedikit berdiskusi ringan dengan rekan dosen sekamar saya mengenai apa pertimbangan tim kurikulum maupun para dosen yang pro dengan perubahan tersebut, namun saat itu kami berdua tidak dapat menemukan alasan lain yang menguatkan untuk menjadikan MK tersebut sebagai mata kuliah pilihan, selain menyimpulkan bahwa mungkin MK tersebut dinilai tidak harus menjadi kompetensi lulusan TL. Karena – masih menurut pendapat saya pribadi – dengan berubahnya status dari wajib menjadi pilihan, memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk memutuskan tidak mengambil MK tersebut, yang saya yakin karena tingkat kesulitan dan beban tugas perencanaan yang menjadi syarat kelulusan MK tesebut, akan banyak mahasiswa yang tidak berpikir untuk mempertimbangkan MK ini sebagai pilihan utamanya (mudah2an pendapat saya ini salah).

Namun berbeda dengan pendapat tersebut, belakangan saya baru membaca, dari reply e-mail di milis dosen yang menjelaskan mengenai pertimbangan “degradasi” status MK tersebut. Selama ini secara disadari atau tidak, mata kuliah pilihan menjadi MK pelengkap penderita saja, maka pada kurikulum baru yad, mahasiswa diwajibkan memilih mata kuliah pilihan yang sebidang dan mendukung topik tugas akhir yang nanti akan dipilih sebagai bidang keahliannya. Dengan demikian mata kuliah pilihan akan sama pentingnya dengan mata kuliah wajib, mahasiswa dituntut untuk benar-benar mempertimbangan MK yang dipilih karena berhubungan dengan topik Tugas Akhir. Pilihan tidak hanya berdasarkan pertimbangan populer yaitu diantaranya kemungkinan besar bisa lulus dg mudah, nilai kelulusan baik (A atau AB) (– kedua pertimbangan ini pada umumnya dilihat dari siapa dosen yang mengampu MK tsb) serta tidak ada tugas perencanaan yang menyita waktu dan tenaga (karena harus asistensi) serta menambah beban semester. Alasan yang menurut saya sangat dapat diterima, namun tentu dengan berbagai konsekuensi yang harus ditanggung oleh mahasiswa. Pada kondisi tersebut, mahasiswa dituntut untuk dapat memilih bidang keahlian yang sesuai minatnya, sejak semester awal dimana mata kuliah pilihan harus diambil, yang saya cukup yakin hal tersebut akan sulit bagi mereka, karena pada semester awal tahun perkuliahan  MK yang diberikan adalah MK dasar dan MK umum, sedangkan MK bidang belum banyak yang diturunkan, dengan demikian belum cukup bekal mahasiswa untuk dapat menentukan minatnya akan satu bidang keahlian tertentu. Dan bisa jadi setelah bertambahnya MK bidang yang mereka ikuti, peminatan terhadap bidang keahlian menjadi berubah, namun sudah terlanjur lulus mata kuliah pilihan di bidang lain. Hal lain yang mungkin terjadi adalah adanya MK-MK yang menjadi “tuntutan pasar dunia kerja” saat ini diletakkan dalam kelompok mata kuliah pilihan pada bidang tertentu yang belum tentu dapat dipilih oleh mhs karena keterbatasan SKS (meskipun mhs diperbolehkan memilih 1 mata kuliah pilihan di luar bidang keahlian yang diminatinya).

Terlepas dari semua pro kontra yang terjadi, selalu akan ada efek positif dan negatif dari setiap pilihan dan keputusan yang akan diambil. Namun ada baiknya bila kita semua berusaha untuk memfokuskan diri pada hal-hal positif terhadap kurikulum 2014 yang akan diterapkan nantinya. Adalah tidak mudah untuk mengakomodasikan dan lebih lagi memuaskan setiap pendapat dan kepentingan dari banyak orang, dosen, mahasiswa maupun stake holder. Namun tentunya tim kurikulum yang dipilih oleh para dosen dan KPJ sudah berupaya untuk merangkum semua masukan melalui berbagai tahapan penyusunan kurikulum 2014 (yang setahu saya juga melibatkan para dosen, mahasiswa dan alumni). Kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan yang pastinya masih akan muncul dalam penerapan kurikulum tersebut, dapat  dicari jalan keluarnya melalui komunikasi diantara para pengambil kebijakan, penyusun kurikulum, dosen pengampu MK, mahasiswa maupun alumni. Demikian pula peran dosen wali dalam membimbing mahasiswa untuk dapat memilih MK yang sesuai dengan minat dan kebutuhan dunia kerja dapat ditingkatkan, sehingga dosen wali tidak hanya berfungsi sebagai tukang pencet tombol klik permanen tiap awal semester.


Semoga “hiruk-pikuk” kurikulum 2014 segera berakhir dengan penyelesaian yang melegakan semua pihak.  Karena pada prinsipnya, seperti yang sudah tertulis di awal tulisan ini, semua bertujuan sama yaitu untuk meningkatkan kompetensi lulusan dalam dunia kerja sesuai visi dan misi jurusan. Terlepas dari itu semua, bagaimanapun wajah baru kurikulum 2014 nantinya, pelaksanaan kurikulum baru tersebut adalah hal  tak kalah pentingnya….karena sebagus apapun kurikulum yang disusun, tidak akan ada artinya bila tidak didukung oleh “isi materi” dan “penyampaian” yang bagus J…… Oleh karenanya, mungkin sudah saatnya kita (baca: para dosen) menghentikan segala hiruk pikuk pro dan kontra penyusunan kurikulum dan segera mengalihkan energi dan ide-ide untuk membuat “terjemahan”  kurikulum tersebut agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Tidak ada MK yang sulit dan “tidak menarik”, karena tantangan  yang lebih sulit adalah membuat MK sulit dan tidak menarik menjadi MK yang disukai (baca: menarik) bagi mahasiswa.


Selamat menyambut Kurikulum 2014……VIVAT TL - ITS

Surabaya,  30 Maret 2014

Wednesday, June 15, 2011

Tumbuhan bukan hanya sekedar paru-paru bumi


Manusia,adalah penghuni bumi yang mempunyai kemampuan dan naluri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan standar yang semakin meningkat seiring dengan kemajuan jaman.  Manusia pula yang memberikan kontribusi terbesar pada pencemaran di bumi dalam upayanya memenuhi kebutuhan hidupnya. Seiring dengan meningkatnya kesadaran manusia akan kebutuhan terhadap lingkungan yang sehat, maka berbagai upaya dilakukan oleh manusia untuk memperbaiki kerusakan dan pencemaran yang terjadi.
Salah satu cara yang saat ini banyak digunakan ialah metode remediasi dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai media penyerap kontaminan atau yang dikenal dengan teknik fitoremediasi. Fitoremediasi berasal dari bahasa Yunani phyto yang berarti tumbuhan, digabungkan dengan bahasa Latin remedium yang berarti memperbaiki atau menghilangkan kejahatan (Erakhrumen and Agbontalor, 2007; U. S. Environmental Protection Agency, 2000). Secara umum, menurut beberapa peneliti, fitoremediasi didefinisikan sebagai teknologi yang menggunakan tumbuhan tertentu untuk membersihkan lingkungan yang tercemar dari pencemar berbahaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan (Morenoa, et. al., 2008; Prasad, 2003; Rodriguez, et. al., 2005; Liu, et. al., 2000; Bhattacharya, et. al., 2006; Hinchman, et. al., 1995; Ginneken, et. al., 2007).
Beberapa proses utama tertentu yang berperan dalam teknologi fitoremediasi (Prasad, 2003; U. S. Environmental Protection Agency, 2000) ialah fitostabilisasi dan fitoekstraksi untuk pencemar inorganik, fitotransformasi/ fitodegradasi, rizofiltrasi, dan rizodegradasi untuk pencemar organik.

Akar tumbuhan memerangkap, menstabilisasi, mendemobilisasi dan mengikat pencemar di dalam matriks tanah,  yang dapat menyebabkan penurunan bioavailability, semua ini disebut dengan proses stabilisasi. Spesies tumbuhan tertentu telah digunakan untuk mengimobilisasi pencemar di dalam tanah dan air tanah melalui absorpsi dan akumulasi dengan akar, adsorpsi ke dalam akar atau presipitasi dalam zona perakaran. Proses ini untuk pencemar organik dan pencemar logam dalam media tanah, sedimen dan lumpur. Spesies tumbuhan tertentu dapat menyerap dan menyimpan pencemar logam dan/ atau kelebihan nutrien dalam akar dan batang, dari media terkontaminasi melalui proses fitoekstraksi. Proses ini untuk logam, metaloid, radionuklida, non metal dan pencemar organik di dalam media tanah, sedimen maupun lumpur. Proses fitovolatilisasi ialah kemampuan tumbuhan untuk menyerap dan memvolatilisasi pencemar ke atmosfir. Proses ini berlangsung untuk pencemar logam di dalam media air tanah, tanah, sedimen maupun lumpur. Sedangkan proses fitotransformasi/ fitodegradasi memecah pencemar sehingga dapat diserap oleh tumbuhan melalui proses metabolisme di dalam tumbuhan, atau memecah pencemar diluar tumbuhan melalui senyawa0senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan. Proses ini digunakan pada molekul senyawa organik yang didegradasi menjadi molekul pencemar yang lebih sederhana di dalam media tanah, sedimen, lumpur dan air tanah.

Akar tumbuhan menyerap pencemar logam dan/ atau kelebihan nutrien dari media pertumbuhannya melalui proses rizofiltrasi. Adsorpsi atau presipitasi maupun absorpsi pencemar ke dalam akar tumbuhan di dalam cairan yang berada di sekitar zona perakaran. Proses ini untuk pencemar logam, kelebihan nutrien dan radionuklida di dalam media air tanah, air permukaan dan air limbah. Pemecahan pencemar di dalam tanah melalui aktivitas microbial yang meningkat dengan adanya zona perakaran disebut sebagai rizodegradasi. Proses ini memanfaatkan mikroorganisme untuk mengkonsumsi dan menghancurkan substansi organik untuk nutrisi atau energi. Substansi alami dilepaskan oleh akar tumbuhan ialah gula, alcohol, asam-asam yang mengandung karbon organic yang menyediakan makanan bagi mikroorganisme tanah dan menghasilkan massa akar yang rapat sehingga dapat menyerap air dalam jumlah besar. Proses ini berlaku untuk pencemar organik di dalam media tanah.

Dalam mekanisme fitoremediasi, terdapat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efektivitasnya, yaitu spesies tumbuhan yang digunakan, sifat-sifat media tercemar yang diremediasi, zona perakaran yang sesuai dengan kedalaman dan luas area tercemar, kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman dan mikroorganisme di zona perakaran, sifat-sifat kimiawi pencemar yang diolah, bioavailability logam untuk pencemaran logam berat, serta penambahan chelating agent untuk membantu proses-proses dalam mekanisme fitoremediasi.

Metode ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan metode-metode konvensional lain yang banyak digunakan sebelumnya diantaranya menarik secara estetika, kurang merusak dibandingkan dengan teknik-teknik yang biasa digunakan, efektifitas yang tinggi dalam mereduksi pencemar, biaya operasional rendah, dapat digunakan untuk pencemar dalam rentang yang luas (jenis dan konsentrasinya), dan kelebihan utamanya ialah merupakan metode yang ramah lingkungan. Namun demikian, disamping beberapa kelebihan, juga terdapat batasan-batasan dalam penggunaannya, yaitu memakan waktu yang lama karena tergantung pada karkateristik tumbuhan yang digunakan, menghasilkan biomassa tumbuhan yang mengandung pencemar dalam jumlah yang cukup potensial menyebabkan permasalahan, terbatasnya panjang dan kedalaman akar tumbuhan, sIfat-sifat kimiawi tanah yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, tingkat pencemaran konsentrasi pencemar, umur tumbuhan serta dampak terhadap vegetasi yang tercemar (setelah digunakan dalam fitoremediasi), kondisi iklim.

Jadi jelaslah bahwa tumbuhan dapat dimanfaatkan, bukan hanya sebagai paru-paru bumi seperti yang sudah sangat dikenal selama ini, tapi seluruh bagiannyapun dapat berperan dalam meningkatkan kualitas lingkungan.


*Artikel ini dimuat di Buletin PSL Ubaya ISSN 11410-8704 no. 25/2011



Foto-foto satu jenis tumbuhan hiperakumulator Scirpus grossus
Foto-foto oleh BIEBY

Pengelolaan Air Limbah Domestik



Masih ingat lagu anak-anak yang sering dinyanyikan oleh ibu kita di pagi hari saat membangunkan kita dari tidur? ….Bangun tidur kuterus mandi….dst.

Tapi tidakkah pernah terpikirkan, kemana larinya air bekas kegiatan mandi tersebut? Hal yang sangat wajar bahwa kita tidak pernah peduli dengan apa yang sudah tidak kita perlukan lagi. Sehingga sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang tidak tahu dan bahkan tidak merasa untuk perlu tahu tentang apa yang terjadi pada air bekas pakai mereka.

Namun hal tersebut bisa jadi tidak berlaku, apabila mereka mengetahui bahwa air bersih yang mereka gunakan untuk kegiatan mandi maupun aktivitas lain sehari-hari adalah berasal dari air sungai yang menampung air bekas yang mereka buang.


Pengelolaan Limbah Domestik di Malaysia

Sejumlah 26 juta penduduk Malaysia menghasilkan sekitar 6 juta ton air limbah per tahun, dan sebagian besar dibuang ke sungai setelah melalui proses pengolahan. Sedangkan sebesar 98% suplai air bersih berasal dari air permukaan, oleh karena itu pengolahan air limbah domestik yang tepat sebelum dibuang ke badan air penerima harus dipastikan. Saat ini, pengolahan air limbah di Malaysia tumbuh seperti jamur di musim hujan, hal ini sebagai dampak positif dari kebutuhan akan pelayanan sanitasi dan lingkungan yang lebih baik. Peningkatan luar biasa dalam bidang sanitasi, dimulai dengan adanya Wawasan 2020 yang dicetuskan oleh (mantan) Perdana Menteri Mahathir Mohammad tahun 1996 pada presentasi di hadapan Malaysian Business Council, yang disebut dengan Kesatuan dan Industrialisasi Malaysia 2020. Wawasan 2020 ini menimbulkan kebijakan baru dan mendorong privatisasi sebagai suatu batu loncatan yang penting untuk strategi pembangunan nasional dan efisiensi nasional. Kebijakan ini meningkatkan kesempatan usaha bagi perusahaan pengelolaan air limbah dan sanitasi, yang diberi tanggung jawab oleh pemerintah untuk mengelola air limbah domestik (http://www.adb.org/water/actions/mal/water-treatment.asp).


Di Malaysia, sistem pengolahan primer seperti tangki septik komunal maupun tangki imhoff dan sistem pengolahan sekunder biaya rendah seperti kolam oksidasi masih banyak digunakan untuk pengolahan air limbah domestik, selain itu tangki septik individual banyak dipakai di daerah permukiman secara luas. Namun pengolahan dengan menggunakan sistem ini masih menghasilkan efluen yang tinggi konsentrasi bahan organiknya, sehingga dapat membahayakan kesehatan dan menyebabkan permasalahan lingkungan. Oleh karena itu, dilakukan perencanaan dan pelaksanaan  fasilitas pengelolaan air limbah domestik secara regional untuk mengurangi jumlah pengolahan air limbah domestik dengan konsep multipoint, pada akhirnya jaringan perpipaan akan dipasang di daerah permukiman untuk mengalirkan air buangan dari tangki septik individual ke fasilitas pengolahan sekunder yang lebih modern. Pengelolaan fasilitas pengolahan air limbah domestik secara regional dilakukan oleh Indah Water Konsortium Sdn. Bhd. (IWK) sebagai perusahaan yang bertanggung jawab. Selain sebagai perusahaan pengelola air limbah domestik, perusahaan ini juga mempunyai tanggung jawab untuk memberikan rekomendasi maupun meluluskan suatu rencana pengelolaan dan pengolahan limbah domestik yang diajukan oleh pengembang kawasan perumahan, sehingga sesuai dengan standar yang berlaku.

Indah Water Konsortium Sdn. Bhd. (IWK) telah mengemban tugas sebagai pengelola air limbah di Malaysia sejak tahun 1994 dan telah menjadikan Negara ini sebagai salah satu pengelola air limbah domestik paling efektif di dunia berkembang. Sistem pengolahannya telah mencapai 8.000 unit pengolahan air limbah domestik umum, 500 stasiun jaringan pemompaan, 14.500 km jaringan perpipaan bawah tanah dan menghubungkan 500 ribu tangki septik individual (rumah tangga) ke saluran air limbah kota  (http://www.adb.org/water/actions/mal/water-treatment.asp).
Setiap 2 tahun sekali atas dasar aturan pemerintah, dilakukan pengurasan lumpur pada tangki septik individual yang terpasang di rumah-rumah penduduk. Lumpur akan dikuras secara terjadual dan akan dibawa ke pusat-pusat pengolahan limbah kota yang dikelola oleh Indah Water Konsortium Sdn. Bhd. (IWK). (Bernama, 04 Mei 2009).

Proses pengolahan biologis dengan bantuan instrumen mekanik masih menjadi pilihan utama karena alasan biaya operasional dan pemeliharaan yang rendah, serta pengoperasian yang mudah, jenis pengolahan ini meliputi activated sludge, aerated lagoon, rotating biological contactor, trickling filter. Tabel berikut menunjukkan jumlah dari masing jenis pengolahan limbah yang ada di Malaysia.

Biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat dalam rangka penyaluran air limbahnya sangat rendah, karena sebagian disubsidi oleh pemerintah. Masyarakat hanya membayar 85% dari biaya yang dikeluarkan, bagi perumahan di kawasan kampung biaya yang harus dibayar oleh pengguna adalah RM3 per bulan, sedangkan di perumahan RM2 per bulan. Sedangkan untuk tangki septik individu, dikenakan tarif RM6 per bulan, dan untuk tangki septik terpusat tarif yang dikenakan adalah RM8 per bulan.  (http://www.iwk.com.my/news-clipping-060905afull.htm).

Saat ini, mulai digalakkan untuk “zero effluent” dengan melalui program 3 R (reduce, reuse, recycle). Air limbah yang masuk ke pengolahan akan keluar sebagai efluen yang terolah, bio solid dan bio gas. Dengan menggunakan teknologi modern, efluen cair dan bio solid akan dapat digunakan sebagai pupuk, sedangkan bio gas dapat dimanfaatkan untuk energy listrik bagi konsumen domestic.

Untuk memastikan kualitas air buangan yang masuk ke badan air penerima dan untuk memastikan bahwa pengolahan air limbah beroperasi dengan benar, efluen dari pengolahan diperiksa secara regular. Selain itu juga diberlakukan standar efluen untuk kualitas air limbah yang akan dibuang dari pengolahan air ke badan air penerima, sehingga konsentrasi setiap kontaminan tidak melebihi batas yang diperbolehkan. Parameter utama yang diperiksa adalah biochemical oxygen demand (BOD5) dan total suspended solid (TSS). Nilai BOD5 yang tinggi menunjukkan tingginya konsumsi oksigen terlarut dalam air  sehingga dapat menyebabkan matinya mahluk hidup di dalam air. Sedangkan konsentrasi SS yang tinggi dapat menyebabkan pengendapan lumpur dalam aliran air dan menurunkan kualitas lingkungan. Tabel berikut menampilkan parameter untuk standar efluen air limbah domestik beserta nilai maksimum yang diperbolehkan. Standar A digunakan apabila efluen dibuang di bagian hulu sungai yang dekat dengan lokasi intake air bersih, sedangkan standa B digunakan apabila efluen dibuang di bagian hilir sungai. Standar ini disusun oleh Environmental Quality Act 1974.




Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik di Malaysia
Foto-foto oleh BIEBY


Seperti halnya di Malaysia, kebutuhan akan sanitasi juga sudah menjadi issue penting di Indonesia. Sebagai contoh, di beberapa kota besar di Indonesia, pengolahan limbah domestik secara terpadu juga sudah mulai umum dijumpai terutama di daerah permukiman baru maupun di hotel-hotel berbintang, bahkan di Kota Denpasar sudah dibangun sarana penyaluran dan pengolahan air limbah domestik kota, meskipun belum dioperasikan secara maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran akan pentingnya sanitasi yang baik juga semakin meningkat dan menjadi perhatian penting bagi pemerintah.


Pengelolaan Limbah Domestik di Surabaya

Kota Surabaya, dengan jumlah penduduk 2,7 juta jiwa (Ir. Chamida, MT., AUICK First 2007 Workshop, City Report: Surabaya, 2007), pengelolaan limbah padat (tinja) domestik masih dilakukan secara lokal menggunakan tangki septik dan sumur resapan sebagai penampung fase cairnya. Tangki septik ini bila sudah penuh harus dikuras/ disedot dan dibuang ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di daerah Keputih yang dikelola oleh UPTD Kebersihan dan Pertamanan. Namun masih banyak pula tangki septik yang tidak dilengkapi dengan sumur resapan, sehingga air dari tangki septik dibuang langsung ke sungai atau sistem drainase kota. Sedangkan air limbah yang berasal dari aktivitas mandi dan cuci maupun kegiatan domestik lain, secara umum langsung dibuang ke sungai maupun sistem drainase. Sehingga dapat dipastikan, air limbah domestik ini sangat berpotensi untuk memberikan kontribusi pencemaran sungai. Hal ini tentunya menjadi penting untuk dipikirkan, mengingat sungai masih menjadi sumber utama dari penyediaan air minum kota (Sumber: AUICK First 2007 Workshop, City Report: Surabaya, 2007). Selain itu, pengguna utama penyediaan air minum kota adalah penduduk atau rumah tangga, sehingga mereka jugalah yang akan merasakan dampak dari menurunnya kualitas air bersih akibat tingginya beban pencemaran sungai sebagai sumber pengambilan bahan baku pengolahan air (Sumber: AUICK First 2007 Workshop, City Report: Surabaya, 2007).


Kota Surabaya, sudah mempunyai rencana ke depan untuk pengelolaan limbah domestik ini, yaitu dengan tetap memanfaatkan tangki septik sebagai penampung dan pengolah limbah, kemudian efluennya akan dialirkan ke (IPAL/ IPLT/ Septage/ Night soil treatment plant). Selain itu, kebijakan-kebijakan pemerintah yang diberlakukan juga ditujukan untuk peningkatan pengelolaan air limbah domestik di masa yang akan datang. (AUICK First 2007 Workshop, City Report: Surabaya, 2007).

Namun tentunya bukan hal yang mudah untuk dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya pengelolaan air limbah dari aktivitas rumah tangga yang mereka hasilkan. Perlu waktu yang panjang dan usaha keras dari pemerintah maupun organisasi-organisasi lingkungan untuk mengubah paradigma yang berkembang di masyarakat, bahwa bukan hanya limbah industri, tetapi limbah domestik juga merupakan kontributor bagi pencemaran air sungai yang menjadi sumber dari air bersih mereka. 



*Artikel ini dimuat di Buletin PSL Ubaya ISSN 1410-8704 no. 22/ 2009