Tuesday, August 8, 2023

Berdamai dengan ketentuanNya

Tulisan ini saya maksudkan sebagai pengingat diri bahwa sebaik-baiknya rencana kita sebagai manusia, tidak akan melebihi kebaikan dari rencanaNya untuk kita ❤️.

Bermula dari keikutsertaannya menjadi pejuang lomba Dokter Cilik tingkat SD kelas 5 yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Univ. Hang Tuah Surabaya, sejak itulah cita-cita Dik Jati menjadi seorang dokter tidak pernah berubah lagi. Sebelum-sebelumnya pernah ingin jadi Dosen Teknik Lingkungan (karena sering diajak ke kantor dan mendampingi mahasiswa kunjungan lapangan juga 🤩), pernah ingin jadi guru (karena terinspirasi guru-guru di sekolah), dan beberapa profesi lain selayaknya anak kecil. Namun sejak ikut lomba Dokcil tsb., sudah mantab hatinya untuk jadi Dokter. Saya masih ingat kalimatnya yang polos dan membuat saya ingin tersenyum: •Ibu, aku kan sekarang dokcil, jadi nanti kalo sudah besar aku harus jadi dokter karena kan sayang kalo udah dokcil gak dilanjutkan jadi dokter." Mungkin pemahaman saat itu bahwa Dokter adalah kelanjutan dari Dokcil 😍.

Seiring waktu, cita2nya jadi Dokter tidak pernah pudar, bahkan kami selalu memanggilnya dengan sebutan Pak Dokter atau Dokter Jati, dan bila ditanya akan jadi dokter apa kelak, jawabannya adalah dokter untuk orang tua-tua dan dokter untuk orang miskin/ gak punya uang.... 🌹.

Saat masuk ke salah satu SMA kompleks di Surabaya (yg saat itu sudah tidak mudah karena peraturan zonasi, dan Jati berhasil masuk melalui hasil tes), persiapan untuk menembus Fakultas Kedokteran sudah mulai dilakukan, ikut bimbel supaya dapat mempertahankan nilai yang baik  dengan harapan eligible untuk ikut jalur nilai raport. Saat naik ke kelas 11, mulai ikut bimbel dengan program khusus medical yang biayanya juga tidak murah, bahkan melebihi besaran SPP kuliah si mas io di ITS 🤣. Les tiap hari setelah jam sekolah dilakukan dengan senang hati dan semangat, demi mengejar cita2nya menjadi seorang Dokter. 

Kenyataan pertama yang harus dihadapi dan diterima adalah tidak masuk daftar eligible di sekolah untuk daftar melalui jalur undangan atau SNBP (seleksi nasional berbasis prestasi), meskipun sedikit kecewa tapi kami juga paham bahwa kalau masuk jalur undangan dan bukan ranking 1-5, akan sulit masuk ke FK (karena dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya hanya anak2 ranking atas yg bisa masuk FK melalui jalur nilai raport). Selanjutnya persiapan untuk berjuang melalui jalur ujian tulis yg saat ini disebut SNBT seleksi nasional berbasis tes. Sebelum jadwal SNBT dibuka, Jati sudah mencoba utk ikut seleksi program IUP (internasional undergraduate program) FK dengan harapan dapat bersaing untuk memperebutkan 50 kursinya, namun belum berhasil. SNBP karena melihat peta perebutan kursi FK di Indonesia berkisar 2500-3500 orang peminat dengan jumlah kursi rata2 50-60an, maka dipilihlah FK UB dan FK UNS dengan berbagai pertimbangan, namun memang belum rejeki Dik Jati untuk diterima melalui SNBT.

Perjuangan belum selesai, semangat untuk ujian mandiri di berbagai perguruan tinggi yang memiliki FK, sebut saja UPN (dengan ujian tulis offline), UGM (dengan ujian tukus offline), UNS gelombang 1 (dengan nilai raport dan dengan ujian tulis online - dua program), UB gelombang 1 (dengan nilai raport dan dengan nilai utbk - dua program), UNUD (dengan ujian tulis offline), UB gelombang 2 (dengan nilai UTBK), UNS gelombang 2 (dengan nilai UTBK), UNAIR gelombang 2 (dengan ujian tulis offline) dan yang terbaru ITS jalur mandiri umum kedokteran (dengan nilai UTBK dan raport). Hasil ujian mandiri tersebut ada di salah satu PT yg diterima di FK, namun saat itu dik Jati masih ingin mencoba di PT lain yg menurutnya lebih sesuai, namun ternyata hasil yang didapat di PT PT lain tidak sesuai yg diharapkan (di UNUD dan UNAIR diterima di pilihan kedua yang bukan FK).

Selain usaha di atas, sebagai plan B Jati juga ikut ujian mandiri di ITS memilih jalur teknik yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan sama sekali. Dan sampai saat memilih Departemen yang dituju pun belum ada jurusan teknik yang menjadi minatnya, akhirnya dengan bantuan pertimbangan seisi rumah, bapak-ibu-mas-adik, membaca informasi di website, pilihan jatuh pada Departemen Sistem Perkapalan ITS dengan program joint degree ke Hoschule Wismar, dengan kelebihan, ada kesempatan merasakan kuliah di Jerman pada semester 6 dan mendapatkan dua gelar (ST. dan BEng.) dan kuliah dengan pengantar Bahasa Inggris yang akan meningkatkan kemampuannya berbahasa Inggris kelak. Dan di Departemen inilah akhirnya Jati masuk dan akan memulai perjalanan sebagai mahasiswa ITS.

Kecewa? sedih? pasti ada, dan bagi orang tua, terutama sy sebagai ibunya, kekecewaan dan kesedihan bukan karena anak sy - untuk saat ini - tidak akan jadi Dokter, namun kesedihan saya lebih pada melihat wajah kecewanya, yang tentu saja lebih kecewa dari besarnya keinginan sy memiliki anak yang berprofesi sebagai Dokter 🙂.

Namun seperti yang sy tuliskan di awal tadi, bahwa rencana kita tidak akan lebih baik dari rencanaNya untuk kita, pelan2 tentu kita akan menyadari bahwa ini adalah pasti jalan sukses buat Jati. Alhamdulillah, tidak perlu berlama2 kecewa dan bersedih, sebagai plan B Jati juga sudah berniat melanjutkan S2 setelah nanti S1 nya selesai, dan juga ingin S3 meskipun nnti jadi dosen atau ngga - dan ini cukup membuat saya lega, bukan karena ingin anak sy sekolah setinggi langit, tapi kelegaan saya adalah bahwa Jati sudah bisa menerima dan membuat rencana lain dalam hidupnya yang tidak kalah indah dari menjadi Seorang Dokter buat Orang Tua dan Orang Miskin. ❤️❤️

Meskipun demikian saat ini masih berencana bahwa tahun depan tetap akan mencoba jalur ujian SNBT untuk masuk FK, namun bisa jadi juga mungkin akan berbeda setelah setahun nanti menikmati kuliah di SISKAL FTK ITS. Selamat Dik Jati, sukses ya nak, VIVAT ITS!!

Penanjakan BROMO

Minggu pagi (12 September 2021) kami berangkat dari rumah dengan tujuan maksi sambil menghiup udara segar di tempat yang ga jauh-jauh dari Surabaya. Rencana pengen nyoba maksi sambil ngopi-ngopi canyik di cafe hutan Cempaka. Ternyata saat di tengah perjalanan karena sambil buka-buka facebook, lihat postingan teman lagi maksi di Pondok Kakek Nongkojajar....sepakatlah kami untuk mengarah kesana. Singkat kata sampailah kami di lokasi yang jadi target maksi, tapi karena tempat yg dituju ternyata tidak begitu besar dan cukup banyak oengunjung, maka kami tidak jadi singgah dan lanjut mrncari target lainnya...naik lagi...dan sampailah kami di Cafe Omah Toetoer. Makan siang yang cukup pagi dengan berbagai menu makanan utama dan makanan ringan, selesai makan jam masih menjnjukkan pk 11.30, masih kepagian untuk pulang ke Suabaya, akhirnya kami lanjutkan perjalanan mengikuti jalan sampai ke Penanjakan BROMO. 

Karena masih dalam kondisi pandemi, tidak ada pengunjung lain yang masuk ke kawasan wisata, dan memang baru dibuka beberapa hari sebelumnya setelah lama ditutup. Suasana berbeda karena tidak ada hiruk pikuk pengunjung maupun penjual di dalam area wisata sehingga terasa lebih sunyi, megah, nyaman dan tampak penuh misteri 🥹. 











Friday, February 26, 2021

Publikasi internasional - jurnal terindeks - H_indeks

Perkenalan pertama saya dengan publikasi internasional berawal dari keterpaksaan: terpaksa - harus - wajib, karena salah satu syarat kelulusan sekolah S3 saya adalah 2 publikasi di jurnal internasional. Tahun 2010 mulai menulis review paper yang ditugaskan oleh supervisor dengan minimum literatur yang dirujuk "more than fourty", yang ternyata luar biasa sulitnya. Perlu waktu 1 tahun lebih dengan berulang2 revisi dan asistensi, untuk bisa dinyatakan layak oleh beliau dan mendapat ijin untuk disubmit di jurnal. Pada saat itu tidak ada ketentuan jurnal harus terindeks dan syarat2 lain yang rumit seperti saat ini, sehingga saya memilih mengirim manuskrip tersebut ke sebuah jurnal yang tidak perlu membayar biaya penerbitan (alias gratis) karena universitas kami sudah berlangganan jurnal2 dari publisher tersebut. Nama jurnal itupun saya dapatkan dari e-mail pengumuman universitas beberapa hari sebelumnya, yang menyebutkan bahwa untuk submit dan mengunduh jurnal dari publisher tersebut tidak dipungut biaya. Satu-satunya pertimbangan saya mengirim manuscript ke jurnal tersebut hanya karena GRATIS, karena saat itu saya gak kenal apa itu indeks dan apa itu Quartile jurnal, yang penting dipublikasi supaya bisa lulus S3 😀.

Beruntungnyaaaaa, hanya dalam waktu relatif singkat (saya lupa tepatnya), manuskrip diterima tanpa revisi berarti, mungkin karena selama 1 tahun lebih sudah direview dan direvisi berulang kali oleh supervisor saya yang superrajin superbaik dan superpintar 💖*salim*. Saat itu sih ga pernah membayangkan kalo submit manuskrip dan publikasi adalah hal yang ga gampang, mengingat pengalaman pertama saya yang langsung diterima tanpa direvisi oleh si jurnal, mungkin saking senangnya jadi lupa kalo untuk nulis satu itu aja butuh setahun lebih yaaa....

Seiring dengan waktu saya menyelesaikan S3, berbagai publikasi-publikasi berikutnya juga menyusul sehingga di akhir masa studi terdapat 5 publikasi melalui jurnal dan 3 publikasi melalui konferensi, hal ini cukup menjadi nilai tambah pada saat viva (ujian lisan) karena penguji2 disertasi sangat mengapresiasi jumlah publikasi saya tersebut (8 judul dalam 3,5 tahun). 

Singkat kata setelah kembali dari sekolah, publikasi2 tersebut (saat itu) masih dapat saya digunakan untuk mengurus kenaikan pangkat sehingga turunlah SK LK-550 saya. Dan sejak kembali ke kampus setelah sekolah, saya berusaha untuk membuat target menulis dan publikasi jurnal minimal 1 dalam setahun. Namun saat itupun saya belum kenal indeks2an, baik indeks jurnal maupun H indeks, sehingga tidak pernah bingung mencari jurnal terindeks sebagai tujuan publikasi, hanya saja ada sedikit perubahan target jurnal yang saya tuju yaitu saya berusaha mencari dan mengirim manuskrip saya ke jurnal OPEN ACCESS dan tentu saja yang gratis tis tis, mengingat saat itu neraca keuangan saya terbatas dan belum ada insentif publikasi dari institusi seperti saat ini 😇. Alasan OPEN ACCESS jurnal sebagai pilihan target publikasi adalah supaya tulisan bisa dibaca banyak orang dengan mudah (karena tidak perlu berlangganan jurnal tersebut untuk mengunduh tulisan maupun membaca tulisan secara lengkap) sehingga harapannya manfaat akan semakin luas. Pada saat itu sayapun belum kenal dengan sitasi dan H indeks, sehingga tidak pernah berharap paper saya banyak disitasi melalui jurnal jenis ini. 

Beberapa tahun terakhir, terjadi perbedaan "tujuan" publikasi di jurnal internasional, hal ini tidak terlepas dari "target" peringkat - baik peringkat perguruan tinggi maupun peringkat negara berdasarkan jumlah tulisan yang dipublikasikan di jurnal terindeks. Tidak ada yang salah dengan pemeringkatan maupun perindeks-an, karena tentunya hal ini dapat menjadi "trigger" bagi para peneliti untuk giat menulis dan mempublikasikan tulisan. Namun sayangnya, hal ini juga dapat menyebabkan banyak penulis terobsesi untuk meningkatkan H_indeks demi "peringkat" (baca; ranking hehehe) penulis di dunia perindeks-an, sehingga ada penulis-penulis yang melakukan self-citation demi meningkatkan angka H_indeks mereka, hal ini sangat dimungkinkan karena H_indeks dapat diformulasikan perhitungannya. Selain itu, salah satu imbas pemeringkatan ini adalah mahalnya biaya publikasi di jurnal-jurnal terindeks dengan level Q yang tinggi karena demikian banyaknya tulisan yang "berkompetisi dan antre" untuk diterbitkan. Dan satu lagi imbas yang ditimbulkan dengan adanya perindeks-an (yang ini 100% menurut pendapat saya pribadi), karena demikian bergengsinya publikasi di jurnal dengan peringkat tinggi (terutama yang open access), maka tersedia dana insentif publikasi yang disediakan oleh institusi bagi penulis yang tulisannya dimuat di jurnal2 terindeks. Hal ini menjadikan penulis tidak keberatan membayar mahal untuk biaya publikasi di jurnal terindeks karena akan ada dana insentif yang nantinya diterima dari institusi, ini merupakan keuntungan ganda bagi penulis karena ga perlu mikir2 panjang untuk bayar mahal dan selain itu akan menaikkan "peringkat" penulis dengan publikasi di jurnal terindeks dengan peringkat atas. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah hal lain yang muncul yaitu profesi penulis manuskrip pesanan, dimana peneliti hanya memberikan data-data hasil penelitian untuk dituliskan bahkan dibantu sampai dengan submit jurnal dan publikasi, dengan pembayaran honor berdasarkan prosentase dari nilai insentif publikasi yang nantinya didapat oleh peneliti dari institusinya. Meskipun hal ini mungkin tidak menyalahi aturan, namun tentunya sebagai peneliti sudah sepatutnya kita menuliskan hasil penelitian kita sehingga dapat dibaca orang banyak dan bermanfaat, dan bukan menyerahkan kepada orang lain untuk menulis dan memproses publikasinya dan menuliskan nama peneliti sebagai author 😀.

Berbagai hal diatas tentunya tidak perlu diperdebatkan manfaat maupun kerugiannya, karena memang dalam setiap hal selalu ada sisi positif dan negatif. Namun yang disayangkan adalah apabila kita terlalu berambisi untuk "mengejar" peringkat dunia tanpa mempertimbangkan bahwa ada banyak hal lain yang bisa kita raih dan akan dengan sendirinya menaikkan peringkat kita baik secara nasional maupun internasional, bahwa masih banyak potensi lain yang bisa kita kembangkan bukan hanya mengejar publikasi di level Q1 dengan mengeluarkan biaya mahal dan mengeluarkan biaya insentif publikasi yang besar. Karena kenyataanya masih banyak jurnal yang cukup baik untuk mempublikasikan hasil penelitian (meskipun levelnya bukan no. 1), namun tidak memerlukan biaya untuk publikasi. Dana publikasi maupun insentif publikasi yang dikeluarkan, dapat dialihkan untuk pengeluaran lain yang lebih bermanfaat, misalnya untuk melengkapi fasilitas penelitian/ instrumen laboratorium, sehingga dapat bermanfaat bagi banyak orang dan meningkatkan produktivitas penelitian (sebagai gambaran: bila dalam satu institusi terdapat 200 orang saja yang mempublikasikan tulisan di jurnal level Q1, maka dana insentif publikasi yang harus dibagikan adalah sebesar 200 x 25.000.000 rupiah = 5.000.000.000 rupiah = banyak yaaaa).

Semoga suatu saat nanti kita semua kembali menyadari, bahwa tujuan publikasi bukanlah untuk "pemeringkatan", "indeks", ataupun insentif publikasi, namun yang lebih penting adalah kemanfaatan hasil penelitian dan tulisan kita untuk orang lain, untuk dunia ilmiah, dan kemajuan ilmu pengetahuan bagi keberlangsungan kehidupan di dunia. 

Selamat menulis, selamat menyebarkan manfaat ilmu dan pengetahuan. Sehebat apapun ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, hanya akan bermanfaat bagi diri sendiri dan akan terkubur bersama pemiliknya. ilmu dan pengetahuan yang diabadikan dalam tulisan dan disebarluaskan, akan memberikan manfaat selama tulisan itu masih ada dan belum ada yang menggantikan.

catatan: gambar hanya ilustrasi yaaa 😅😅😅






Tuesday, February 23, 2021

Jejak perjalanan 2019 - Ucapan adalah Doa (2)

"Bermimpilah setinggi-tingginya meskipun kamu merasa hal itu tidak mungkin terwujud, dan ceritakan mimpimu kepada siapapun seolah2 semua yang mendengar akan ikut mendoakanmu, karena sejatinya setiap ucapan adalah doa yang tinggal menunggu saat yang tepat untuk terwujud"


Kalau dalam cerita sebelumnya saya tuliskan tentang perjalanan ke Eropa yang tanpa rencana dan tiba2 saja terlaksana, kali ini cerita yang sama akan saya tuliskan, kali ini perjalanan ke China...ya China, sampe manjat temboknya yang pernah dan sering saya sampaikan ke teman-teman maupun keluarga (baca: anak dan suami saya) merupakan salah satu "keinginan" saya: paling pengen jalan2 adalah ke Eropa, dan ke China lihat tembok China.

Lagi-lagi semuanya tanpa rencana dan tanpa disangka2.....berawal dari daftar online pelatihan ke China yang infonya saya dapat dari teman kuliah S3 yang berasal dari Iraq (yang bahkan judul workshopnyapun saya gak paham karena panjang dan agak aneh buat saya, tapi tetep nekad daftar, karena lokasinya di China). Pelatihan tersebut selama 2 minggu, dan gratisss tiss tiss. Cuma modal ngisi formulir aja, itupun online, jadi yang bayar cuma kuota internet. Setelah daftar online, lupakan ajalah gak usah diinget2 supaya gak terlalu kecewa kalo gak lolos. Dan bener memang gak lolos, nama saya gak ada dalam daftar nama yang diterima pelatihan, ya gapapalah mungkin belum rejeki. Tapi memang rejeki gak pernah salah alamat, teman saya yang memberi info pendaftaran pelatihan tersebut menanyakan apakah saya tidak diterima karena dia tidak melihat nama saya ada dalam daftar (sedangkan namanya ada), saya jawab ya belum rejeki saya untuk ke China, mungkin tahun depan saya akan coba lagi. Ternyata 2 hari kemudian saya terima email bahwa saya diterima di pelatihan tersebut dan diminta melengkapi data-data untuk pengurusan transportasi dan akomodasinya....woowww....Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari 2 bulan, kedua keinginan saya akan terwujud bersamaan....ke Eropa dan ke tembok China.

Berangkat sebulan setelah kepulangan dari Eropa, kali ini seorang diri sampai ke Malaysia dan bertemu spv saya untuk perjalanan yang sama ke Yinchuan China. Workshop di Yinchuan (kota kecil di China, pusat Goji Berri yang katanya obat awet muda hehehe),  cukup menarik dan banyak pengalaman serta pengetahuan baru, bertemu teman baru dan banyak hal yang menakjubkan saya ketahui tentang negara ini. Terutama tentang bagaimana mereka membangun kerjasama dengan negara2 arab dan membangun kembali jalur sutera yang pada jaman dulu pernah ada (pokok e hebat pol). Cuma sulitnya adalah disana mereka hanya menggunakan media komunikasi wechat, yang agak sulit untuk bisa membuat akunnya (karena harus ada rekomendasi dari akun wechat yang sudah digunakan > 6 bulan - ruwet bin mumet).

Dari Yinchuan, workshop dilanjutkan ke Beijing dan tentu seperti workshop international pada umumnya, ada acara jalan2 yang diberikan kepada peserta untuk memilih salah satu dari dua tujuan (padahal pengen 2 2 nya) yaitu: tembok China (yeayyyy) dan kota terlarang. Bisa ditebak pilihan sebagian besar peserta adalah ke tembok China....i think going to greatwall is more important than the workshop itself 😃😃😃😃

Tembok China.....wuaaa megah, tinggi besar, panjang meliuk2 dan bercabang2, tak terbayang gimana dulu pekerja2 yang membangun, tangganya terdiri dari batu2 besar, yang kalau akan menaikinya pun kaki kita harus diangkat tinggi2 (mungkin karena ukuran badan yang minimal ya). Kami berangkat dari Beijing ke lokasi tembok China yang paling sering dipanjat dan paling singkat (katanya), nyatanya perlu waktu lebih dari 3 jam untuk bisa meninggalkan jejak kaki di sepanjang jalur dari pintu masuk sampai pintu keluar. Lama ya, tapi karena cuaca dingin, jadi gak terasa berat (karena gak berkeringat), namun cukup menguras napas karena oksigen yang makin ke atas makin berkurang. Pemandangan luar biasa indah dan bisa dilihat jalur tembok China yang memanjang ke arah lain seperti kaki laba-laba yang panjang ke segala arah...betul-betul luar biasa, maka selayaknya lah tembok China jadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Pengalaman luar biasa bisa melangkahkan kaki di atas tembok megah itu, dan semoga dimudahkan nanti untuk membawa anak-anak mencoba pengalaman yang sama. 

Pengalaman menelusuri tembok luar biasa itu, sekali lagi membuktikan bahwa keinginan yang kita ucapkan akan menjadi doa, didukung oleh semesta dan dikabulkan oleh Sang Pencipta, karena sejatinya tidak ada doa yang sia-sia, dan semua doa hanya menunggu saat yang tepat untuk kita menurutNya. 


foto-foto menyusul, bisa juga dilihat di fb saya: Bieby Voijant Tangahu



Surabaya, 24 Februari 2021

Jejak perjalanan 2019 - Ucapan adalah Doa



Saya pernah berangan-angan mengunjungi negara-negara di Eropa, dan keinginan tersebut seringkali saya ucapkan bila sedang berbincang dengan anak-anak saya maupun dengan beberapa rekan yang akrab dengan saya. Dari beberapa perbincangan santai tersebut, ada seorang teman yang tiba-tiba menginformasikan tentang sebuah seminar internasional yang diselenggarakan oleh sebuah perguruan  tinggi di Eropa, tepatnya di Polandia. Kebetulan kami berdua merupakan anggota laboratorium yang sama di Teknik Lingkungan, dan kami sepakat untuk mendaftar ke acara tersebut, sekaligus mendaftar untuk mendapatkan dana seminar internasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi. Singkat kata, makalah kami bertiga (dengan seorang kawan lagi dari lab yang sama) berhasil masuk dalam seminar tersebut, sekaligus kami mendapatkan dana untuk biaya pendaftaran seminar sekaligus biaya transport pp.

Maka dimulailah perjalanan kami dengan mengurus VISA Polandia melalui biro perjalanan yang ada di kampus kami, pengumpulan semua formulir pendaftaran dan persyaratan yang diperlukan serta menunggu kabar proses VISA yang tak kunjung datang cukup membuat kami cemas, karena harga tiket pesawat yang semakin mahal saat mendekati hari H.
Berita gembira proses pengurusan VISA akhirnya kami terima, kami mendapatkan jadwal wawancara pada hari Selasa minggu depan (berita kami terima kurang dari seminggu), hari itu juga kami membeli tiket pp ke Jakarta dengan jadwal keberangkatan paling pagi dan pulang dengan pesawat paling malam. Proses wawancara untuk VISA ternyata hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit saja, sehingga kami punya terlalu banyak waktu menunggu jadwal pesawat kembali ke Surabaya, dan VISA kami siap dalam waktu kurang dari 1 minggu.

Negara tujuan kami yang pertama adalah Polandia, kami naik pesawat menuju Kota Warsawa dengan pesawat Qatar Airline yang berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta Jakarta dan transit di Bandara Dubai. Perjalanan panjang dan melelahkan membawa kami ber3 memulai petualangan di beberapa negara di Benua Eropa yang baru pertamakalinya tanpa didampingi oleh pemandu.
Di nagara ini kami tinggal selama 1 minggu dengan 2 kota tujuan yaitu Warsawa dan Kazimiers Dolny, sebuah desa kecil yang sangat historis dan menjadi tempat kegiatan konferensi tersebut dilaksanakan. Dusun kecil ini ternyata punya sejarah kelam perang dunia (sayangnya saya bukan penggemar sejarah sehingga kurang paham dengan cerita yang disajikan saat ikut midnight tour yang seru ke kota lama dan bunker2 yang ditutup dengan tujuan akhir pemakaman...ya pemakaman massal yang suasananya cukup serem krn ukuran dinding yang tinggi seperti dalam filem horor barat).
Selama di Polandia kami sempat explore keliling kota Warsawa yang pucat (iya kesannya pucat meskipun belum musim dingin dan sama sekali ga ada salju), meskipun banyak bangunan cantik dan megah tapi tetep aja terasa "pucat" entah kenapa ya, dan saya baru ingat dulu waktu kecil pernah berangan2 mengunjungi negara yang benderanya kebalikan bendera Indonesia 😍. Kami juga sempat berkunjung ke Warzaw University karena kebetulan ada teman baik supervisor kami (Prof. Siti Rozaimah) yang berasal dari Universitas ini, ohya belum saya sebutkan bahwa konferensi yang kami ikuti juga diikuti oleh teman2 kami dari UKM Malaysia. Laboratorium Phytotechnology di Warzaw Univ. ini membuat kami takjub, terdapat beberapa Greenhouse berukuran raksasa (betul2 raksasa karena sangat besar) yang didalamnya terdapat berbagai spesies tumbuh2an bahkan yang berasal dari daerah tropis. Suhu dan cuaca pun bisa diatur sedemikian sesuai dengan penelitian yang dilakukan (hangat, dingin, hujan dll.). Seandainya punya yang beginian satuuuu aja di TL ITS yaaa.... 😇
















Setelah acara konferensi dan kunjungan ke Warzaw University, dalam perjalanan pulang kami 
"mampir" Paris, Brussel, dan Amsterdam 😍😍😍, dengan hanya berbekal petunjuk melalui whatsap chat  dari teman yang sudah sering keliling2 Eropa Barat, kami ber3 menelusuri tempat-tempat wisata di ketiga kota di tiga negara berbeda tersebut. Di Paris kami tinggal 2 malam, menikmati malam minggu yang macet di pusat kota, keliling2 dengan bis hop on hop off, mengagumi menara besi menjulang yang mirip2 dengan menara listrik SUTET di kota-kota di Indonesia 😂😂😂. Menikmati keramaian kota pusat mode dunia yang sebelumnya cuma bisa dilihat gambar2nya di majalah, rasanya betul2 seperti gak nyata. 





Dari Paris kami naik KA menuju Brussel, mampir makan wafel coklat yang katanya enak banget (padahal biasa aja juga ya kayaknya, cuma bedanya dimakan di tempat asalnya) dan ikut2an turis sedunia yang mengunjungi patung bocah pipis (manekin pee) yang sangat ngetop (dan ternyata tidak saya sangka2 patungnya cuma se-ipret) padahal digerumbuli begitu banyak manusia yang pengen foto bareng, sampai2 saya masih berusaha menemukan patung lain walaupun aplikasi google map yang kami gunakan sudah menunjukkan kami sampai di manekin pee tersebut (saking gak percayanya kalau patung ngetop di seluruh dunia itu hanya sekecil lengan bawah orang dewasa dan letaknya di pertigaan gang kecil). Dan meluncur dengan KA sore menuju Amsterdam, yang menjadi tujuan akhir petualangan kami. 
Tiba di Amsterdam pukul 11 an malam, duduk di stasiun KA yang kuno tapi keren, minum kopi dulu sambil mikir mau naik apa ke tempat tujuan 😍, akhirnya kami lanjutkan naik taksi ke hotel kecil di Damrak yang sudah kami pesan. Lokasi hotel keren banget di depan kanal, pusat taksi air berjejer, hanya sekitar 100 meter dari (saya lupa namanya) lapangan yang dikelilingi gedung2 tinggi yang salah satunya sy ingat adalah museum Maddam Tussaud dan De Buenkorf. Tapi sayangnya lokasi kamar kami di lantai 3 dan ga ada lift nya...meskipun si bapak pemilik bersedia ngangkatin koper2 kami tapi naik turun 3 lantai seperti itu membuat lesu darah hehehe, akhirnya kami memutuskan pindah hotel di tengah malam sekitar jam 1 (pagi ya?), yang meskipun di jalanan banyak anak2 muda yang duduk2 dan ada juga tunawisma yang tidur di trotoar, tapi suasananya jauh dari serem, bahkan kami dapat memperoleh taksi dengan mudah dan driver yang sangat membantu, sehingga kami sampai ke hotel berikut yang direkomendasikan oleh tante teman saya yang sudah lama tinggal di Amsterdam, yang letaknya bersebalahan dengan stasiun KA (lupa namanya). 

Kami habiskan 2 hari di Amsterdam sebelum kembali ke Indonesia, sebetulnya kami sangat ingin foto di depan tulisan I AMSTERDAM yang sangat iconic itu, tapi ternyata gak satupun ada tulisan tersebut disana (sudah dilepas hehehe). Jadi kami putuskan jalan2 menikmati kanal, yang setelahnya kami jadi sedikit geli: jauh2 ke Belanda cuma jalan2 di got aja, yang airnya juga gak bersih, cukup bau (lah memang got ya pasti bau lah), dan pemandangannya rumah2 yang meskipun diceritakan sejarahnya oleh guide yang ada di boat, tetep aja gak ada yang istimewa bagi kami, karena kami gak kenal dengan sejarah yang diceritakan. Setelah itu kami lanjutkan juga dengan mengunjungi castil (entah apa namanya gak inget) yang bisa kami temukan lokasinya dengan naik bis hop on hop off (lagi-lagi andalan), dan ditutup dengan berusaha mencari kincir angin di negeri kincir angin, yang ternyata gak ada kincir anginnya 😂😂. Di peta bis hop on hop off yang kami tumpangi, terdapat 1 lokasi dengan gambar kincir angin, namun karena jalur tersebut tidak dilewati bis, maka kami berusaha menemukan lokasinya dengan jalan kaki menyusuri tepian kanal daaaaaan.......taraaaaaaa.....berhasil, cuma sayangnya kincir angin tersebut sudah rusak dan patah2 kincirnya 😃😃, meskipun demikian kami tetep foto2 di depannya sekedar pelipur lara hehehe.

Mungkin pengalaman keliling keliling Eropa yang cukup singkat tidak banyak dapat menceritakan hal istimewa, tapi yang berkesan bagi saya adalah bahwa dalam hidup, tidak ada yang tidak mungkin, dan setinggi apapun mimpi tetap akan jadi mimpi kalau tidak kita upayakan dan perjuangkan, dan tentunya hal yang paling penting adalah bahwa SETIAP UCAPAN adalah DOA. Terbukti dengan beberapa kali sy menyatakan kepada teman maupun anak2 saya, pengen ke Eropa, dan ke China (lihat tembok cina...akan saya ceritakan juga di tulisan berikutnya tentang pengalaman saya ke China), di tahun yang sama ucapan tersebut terlaksana, dan yang istimewa adalah tanpa biaya (kalau biaya sendiri mungkin belum terlaksana, karena banyak mikirnya hehehe).


Selamat menikmati hidup, selamat bermimpi dan mewujudkan mimpi, banyak2lah mengucapkan hal yang ingin dilakukan, karena terbukti bahwa setiap ucapan adalah doa yang cepat atau lambat akan dikabulkanNYA.


Surabaya, 23 Februari 2021 (tulisan ini tertunda sejak juni 2020, dan baru dilanjutkan malam ini karena ternyata ada mahasiswa saya yang senang membaca tulisan2 di blog saya - terimakasih Primantari mhs S2 TL angkatan 2020)




Sunday, May 12, 2019

PPDB 2019 (Jilid 2)

Masih tentang hiruk pikuk PPDB 2019, setelah tulisan saya sebelumnya terkait PPDB berdasarkan zonasi, perkembangan terbaru (info terbaru tentang PPDB 2019) mengenai PPDB zonasi mengalami sedikit perubahan, yaitu masih berlakunya sekolah khusus (yang pada PPDB sebelumnya dikenal sebagai sekolah kawasan). Seperti PPDB sebelumnya, metode penerimaan sekolah khusus tingkat SMP ini juga menggunakan nilai Tes Potensi Akademik (TPA) selain nilai UNAS, dengan prosentase yang belum ditentukan. Sedangkan untuk SMA, metode penerimaan kembali seperti 2 tahun terakhir yaitu menggunakan nilai UNAS, dan calon siswa boleh memilih salah satu sekolah di luar zona tempat tinggalnya. Hiruk pikuk kembali terjadi, terdapat yang pro dan kontra terhadap pengembalian aturan penerimaan siswa ini, pro bagi yang alamat tempat tinggalnya berada di luar zona sekolah-sekolah favorit, dan kontra bagi yang sebaliknya, karena merasa diuntungkan dengan adanya peraturan zonasi :)

Saya pribadi tidak ambil pusing dengan perubahan-perubahan mendadak yang dilakukan oleh pengambil kebijakan, mengingat kedua metode PPDB tersebut sama-sama mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan tentu saja dapat menguntungkan maupun merugikan bagi anak-anak saya yang masih akan memasuki jenjang SMP (tahun ini) dan SMA (tahun depan). Namun tetap saja perubahan tersebut membuat saya kalangkabut mencari lembaga kursus untuk mempersiapkan anak bungsu saya menghadapi TPA yang mungkin diperlukannya bila nilai UNAS yang didapat mencapai rata-rata 8,5. Lembaga kursus TPA pun seperti mendapat angin segar dan segera melancarkan aksi propagandanya melalui berbagai media sosial. Berbagai penawaran  bersliweran memenuhi grup-grup medsos orang tua calon siswa, dengan berbagai variasi harga yang ditawarkan, namun dari berbagai variasi tersebut ada satu kesamaan yaitu sama-sama mahal untuk ukuran rata-rata orang tua, bila dibandingkan dengan biaya sekolah SD selama 1 tahun :D. Bagi sebagian orang tua yang kebetulan memiliki keleluasaan dalam hal finansial, bisa jadi kebingungan mereka hanyalah memilih lembaga kursus yang dinilai paling tepat untuk membimbing anak-anak mereka. Namun bagi sebagian lainnya, kebingungan tersebut tentu ditambah dengan menyediakan biaya kursus yang tidak murah. Mengingat TPA ini tidaklah mudah bagi anak-anak usia SD yang belum pernah menghadapi dan belum disiapkan untuk ujian TPA.

Sebagai orang tua, lagi-lagi ego saya merasa kurang "pas" dengan aturan ujian TPA ini, bukan hanya karena "keharusan" mengeluarkan biaya les, namun juga mengingat anak-anak sudah bekerja keras berbulan-bulan untuk persiapan UNAS, kenapa harus dibebani lagi dengan ujian TPA yang notabene hanya punya waktu sebulan untuk persiapannya (belum dikurangi libur puasa dan lebaran), sehingga agak kurang fair  bila penerimaan sekolah juga didasarkan pada nilai TPA ini. Selain itu, pemberitaan yang simpang siur dan perubahan metode penerimaan siswa juga membuat anak-anak sedikit mengalami kekacauan - kalau tidak boleh disebut shock - dan bingung serta kecewa, terutama yang sudah merasa diuntungkan dengan adanya sistem zonasi.

Terlepas dari semua hiruk pikuk PPDB 2019, memang harus disikapi dengan positif, karena pada prinsipnya metode zonasi cukup masuk akal untuk diterapkan dan tidak mengeksklusifkan sebagian sekolah tertentu yang masuk dalam kategori sekolah khusus, sehingga semua anak akan dapat menikmati pendidikan dengan kualitas yang sama dimanapun mereka bersekolah. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa, penerapan metode tersebut tidaklah dapat dilakukan semudah membalik telapak tangan, karena banyak yang harus dipersiapkan dengan matang sehingga tidak merugikan banyak pihak.

Surabaya, Sabtu 12 Mei 2019 pk. 18.50



Friday, April 19, 2019

Teknik Remediasi Lingkungan



Mata Kuliah Teknik Remediasi Badan Air dan Pesisir (RBAP) baru eksis di Kurikulum 2014 Teknik Lingkungan, sebelumnya pada Kurikulum 2009 terdapat Mata Kuliah Pengendalian Pencemaran Laut  dan Pesisir (PPLP) yang dihapus dan dimasukkan ke dalam MK RBAP di 2004. Sebagai dosen yang tergabung pada Rumpun Mata Kuliah (RMK) Remediasi Lingkungan, maka saya juga mendapat kepercayaan untuk menjadi pengampu MK RBAP ini. Kebetulan juga mungkin karena topik Tugas Akhir dan topik Disertasi saya tentang Ekotoksisitas limbah organik terhadap biota air dan Bioremediasi/Fitoteknologi media tercemar logam berat Pb dianggap merupakan bagian dari Teknologi Remediasi, sehingga dianggap cukup sebagai bekal untuk menyampaikan MK tersebut.

Pada saat aktif kembali tahun 2013 setelah 3,5 tahun sekolah, saya mengawali "karir" menjadi pengampu MK PPLP dan ternyata saya sangat menikmati, terutama saat menyampaikan materi mengenai  Bioremediasi/Fitoremediasi yang memang menjadi "mainan" saya selama hampir 4 tahun. Sehingga pada saat Kurikulum 2014 direlease, dan saya menjadi salah satu pengampu MK RBAP, sudah timbul niat saya untuk menyusun diktat/ buku ajar tentang teknik-teknik remediasi yang ada dan dapat diterapkan. Namun karena keterbatasan waktu (alasan klise) dan ketidakPEDEan, membuat draft buku tersebut tetap menjadi draft selama beberapa tahun (lebih kurang 4 tahun sampai diterbitkan tahun 2018). Keinginan untuk melanjutkan realisasi diktat/ buku tersebut timbul lagi setelah dengan "terpaksa" kami team teaching MK RBAP (Prof. Sarwoko M, bu Harmin S. Titah dan saya sendiri) menerbitkan petunjuk praktik Remediasi Lingkungan, yang disusun dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari setahun) dan dipersiapkan mendadak setelah presentasi Rencana Perkuliahan (RP) MK RBAP disampaikan di Rapat Kurikulum di tahun 2014. Pada saat itu kami berdua (bu Harmin dan saya) menyusun petunjuk praktikum untuk keperluan perkuliahan, terdiri dari +/- 12 percobaan, namun setelah kami tunjukkan kepada Prof. Sarwoko selaku ketua RMK Remediasi Lingkungan, beliau menyampaikan bahwa draft tersebut sudah layak diterbitkan sebagai buku berISBN, dan jadilah buku Praktik Remediasi Lingkungan dicetak dengan ISBN dan penerbit ITS Press. Buku tersebut dicetak dan diberikan secara cuma-cuma kepada mahasiswa dengan biaya yang diupayakan secara pribadi oleh anggota Laboratorium Remediasi Lingkungan TL. Buku tersebut juga merupakan pegangan untuk melaksanakan praktikum MK RBAP sejak praktikum dilaksanakan di semester gasal tahun 2015/2016 (TL angkatan 2013).

Setelah terbitnya buku praktik tersebut, saya mengajak bu Harmin untuk ikut melanjutkan penyelesaian draft buku Teknologi Remediasi Lingkungan yang sudah terhenti penulisannya karena banyak hal yang disebutkan di atas, dan ditambah lagi dengan tersitanya waktu untuk menyelesaikan penulisan dan penerbitan buku Praktik Remediasi Lingkungan. Pada akhirnya, tahun 2018 lalu, setelah menjalani proses panjang seleksi di penerbit lebih kurang 1 tahun (karena kami berusaha mencari penerbit yang mau memproduksi buku kami tanpa kami mengeluarkan biaya), terbitlah buku kami yang berjudul Teknologi Remediasi Lingkungan dengan ISBN978-602-5874-07-9 oleh Penerbit MOBIUS (Graha Ilmu). Semoga buku ini dapat menjadi sarana penyebaran pengetahuan, dan walaupun belum selengendaris buku Metoda Penelitian AIR karya Ibu Sri Sumestri, namun kami berharap buku ini kelak juga dapat menjadi pengingat keberadaan kami kepada alumni Teknik Lingkungan ITS terutama. Bismillahirrohmaanirrohiiim.


Surabaya, Sabtu 20 April 2019, 10.07